Profit Lebih Cepat, Daya Tarik Aset Kripto sebagai Instrumen Investasi

Aset kripto sudah menjadi tren di Indonesia. Berdasar data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), jumlah investor sampai Februari 2021 tercatat 4,2 juta. Sementara itu, nilai transaksinya mencapai Rp 1,7 triliun per hari.

CHEF Arnold Poernomo tertarik memiliki aset blockchain sejak 2017. Saat itu booming soal bitcoin dan desentralisasi finance. Arnold pun mulai mempelajarinya, tapi belum langsung membeli. Dia beruntung belum masuk pasar. Sebab, pada 2018, bubble harga aset kripto ’’pecah’’.

’’Kalau misal sudah masuk pasti nyangkut, rugi, dan kita pasti trauma (berinvestasi),’’ ucapnya dalam talk show daring, Selasa (18/5). Juri Master Chef itu baru benar-benar memulai trading kripto pada Juli 2020. Koin pertama yang dibelinya adalah dogecoin senilai Rp 50 juta.

Menurut dia, pandemi Covid-19 adalah momen yang tepat untuk membeli aset investasi. Sebab, hampir seluruh pasar crash. Nilainya terkontraksi dalam. ’’Beli ketika harga terendah,’’ ujarnya.

Desember 2020, Arnold melihat tren harga kripto naik terus setiap pekan. ’’Nggak lama, awal 2021 Elon Musk mengumumkan Tesla beli. Itu kami semakin yakin,’’ katanya. Saat ini dia mengoleksi ethereum, binance, polkadot, enjin, dan zipmex.

Arnold mengaku tidak punya background skill dalam membaca chart. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai tahu. ’’Apakah dibilang itu sedikit gambling? Ya memang uncertainty. Tapi, saya percaya teknologi masa depan blockchain,’’ tuturnya.

Pria 32 tahun itu tidak menampik pernah rugi. Sebab, kala itu dia tak punya strategi trading yang baik. Untung, kerugiannya tidak terlalu besar. Menurut chef asal Surabaya tersebut, kripto merupakan aset dengan volatilitas tinggi sehingga berisiko tinggi. ’’Sesuai dasar ilmu investasi high return, high risk,’’ jelasnya.

0 / 5. 0